Anak Krakatau Erupsi, Lontarkan Abu Setinggi Ratusan Meter

0
232

LAMPUNG SELATAN, WARTAALAM.COM – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekam aktivitas erupsi berupa lontaran abu setinggi ratusan meter yang terjadi di Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan, Rabu (4/1/2023).

Petugas Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Ade Yasser Akhmad Purwata mengatakan erupsi itu pukul 14.10 WIB.

“Tinggi kolom abu teramati sekira 100 meter di atas puncak (Gunung Anak Krakatau setinggi sekira 257 meter di atas permukaan laut, red.),” ujarnya.

Ia menuturkan kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur. Erupsi itu terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi sekira 20 detik.

Status aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada level III atau siaga dengan rekomendasi masyarakat agar tidak mendekati gunung api tersebut atau tidak beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah aktif.

Catatan sejarah kegiatan vulkanik Gunung Anak Krakatau sejak lahirnya pada 11 Juni 1930 hingga 2000, telah mengalami erupsi lebih dari 100 kali, baik bersifat eksplosif maupun efusif.

Dari sejumlah letusan tersebut, umumnya titik letusan selalu berpindah-pindah di sekitar tubuh kerucutnya. Waktu istirahat berkisar satu hingga delapan tahun, dan umumnya terjadi empat tahun sekali berupa letusan abu dan lelehan lava.

Sementara itu Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Gunung Anak Krakatau Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Andi Suwardi mengatakan, kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada level III.

“Saat ini Gunung Anak Krakatau berada pada status level III (Siaga),” katanya.

Dia mengimbau, warga, pengunjung, dan wisatawan dilarang mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius lima kilometer.

“Masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak boleh mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah aktif,” kata dia.

Seorang kepala dusun di Pulau Sebesi Riko mengatakan, warga pulau resah atas sering terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Iya Mas, kami warga resah atas sering terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau,” katanya

Dia mengatakan, warga sekitar masih trauma atas bencana tsunami di Selat Sunda tahun 2018.

“Kalau dibilang trauma pasti trauma mas, karena kan tsunami 2018 kemarin akibat longsoran dari Gunung Anak Krakatau itu,” ujarnya.

Aktivitas  Gunung Anak Krakatau statusnya masih siaga, sehingga warga sekitar diimbau agar tidak terpengaruh isu hoaks, kata dia. (tim)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini