Kebenaran Sejati

0
338
SEMUA INSAN, baik secara individu maupun kelompok menjadikan “benar atau kebenaran” sebagai landasan dan dasar serta payung hukum atas tindakan mewujudkan visi dan misi.
Namun tidak sedikit yang belum memahami “kebenaran” yang sesungguhnya alias sejatinya “benar”. Akibatnya kerap berbenturan dengan kepentingan berbagai pihak, dengan kata lain melanggar hukum atau bertentangan.
Bahkan “benar atau kebenaran” dijadikan alat menghakimi atau men-justice pihak lain serta melegalkan kegiatan dan perbuatan pribadi atau suatu organisasi serta perbuatan yang terorganisasi.
Pada era akhir saat ini, tidak sedikit orang di dunia ternasuk di Indonesia yang terjebak dalam benar menurut pribadi atau kelompok (organisasi alias teroganisasi/jamaah).
Padahal “benar atau kebenaran” tersebut hanya berlandaskan kepentingan bahkan nafsu (ambisi).
Tidak mengherankan jika pelaksanaan atau pengamalan mencapai visi dan misi bertentangan dengan hukum (kebenaran) negara yang berdasarkan visi dan misi demi kepentingan negara dan penduduknya (kolektif kolegial).
Semua insan baik pribadi atau kelompok (negara) mahfum, ada hukum (benar/kebenaran) yakni “benar’ menurut Allah wa robbikum (Quran dan hadist) atau kitab suci dan rasul yang pelaksanaannya menggunakan aqli dan nakli agar tidak terjadi penyimpangan karena hukum atau aturan tersebut diciptakan untuk kepentingan alam semesta dan segala isinya teturama manusia, baik secara pribadi atau kelompok (negara).
Kebenaran harus dan wajib berdasarkan benar menurut Allah (sesuai petunjuk kitab dan rasul-Nya), benar menurut negara (UUD) dan segala produk hukum lainnya, dan benar menurut pribadi/kelompok atau organisasi.
Waspada terhadap “benar atau kebenaran” menurut pribadi dan kelompok (organisasi) akan membuat lebih bijak bahkan menyelamatkan pribadi dan keluarga dari penderitaan karena semua visi dan misi berdasarkan pentingan dan nafsu meski secara organisasi berazaskan hukum negara dan agama.
Tiga pondasi “benar” tersebutlah yang mengantarkan dan menjadi jembatan manusia menjadi iman dan taqwa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini