Lampung Kembangkan Kedelai Lokal

0
1225

BANDAR LAMPUNG, WARTAALAM.COM – Gubernur Lampung Arinal Djunaidi mengajak berbagai pihak segera mengembangkan kedelai lokal guna mewujudkan kemandirian pangan di daerah tersebut.

“Untuk mewujudkan kemandirian pangan, maka kita harus mengutamakan komoditas yang menjadi kebutuhan masyarakat. Seperti lima komoditas yang menjadi unggulan yakni padi, singkong, lada, jagung, manis dan cokelat. Tetapi potensi yang lain juga harus dilihat,” ujar Arinal Djunaidi di Bandarlampung, Jumat (4/8/2023).

Ia mengatakan, dalam pengembangan komoditas itu Lampung juga berpotensi pula mengembangkan komoditas kedelai lokal, guna mewujudkan kemandirian pangan.

“Kalau Lampung berpotensi mengembangkan kedelai kenapa harus kelapa sawit. Dan potensi kedelai sangat bagus, coba kita lihat semua makan tempe tetapi kedelainya impor. Ini jadi tidak adil tidak ada nilai cinta produk lokal. Maka saatnya sekarang kembangkan kedelai disini untuk memenuhi konsumsi lokal,” katanya.

Menurut dia, pengembangan komoditas kedelai tersebut pun harus tetap didukung oleh berbagai pihak, dari mempermudah akses permodalan, ketersediaan lahan, dan pengembangan budidaya yang baik serta benar.

“Kedelai ini potensinya bagus tapi belum ada tindak lanjutnya, jangan sampai hilang lahan kedelai disini. Perbankan harus membantu juga untuk permodalan petani kedelai, kita harus perhatikan potensi yang dimiliki karena potret ekonomi ini positif akibat topangan komoditas unggulan,” ujarnya.

Tanggapan atas adanya pengembangan kedelai di Provinsi Lampung pun dikatakan Senior Executive Vice President Bussines Support PT Perkebunan Nusantara VII, Okta Kurniawan.

“Sejajar dengan program pemerintah kami melihat banyak sekali potensi, dan beberapa harus bisa dikembangkan jangan hanya berfokus kepada kelapa sawit serta karet tetapi ada beberapa tanaman hortikultura seperti padi, jagung dan kedelai yang bisa dikembangkan,” kata Okta.

Ia mengatakan, saat ini pihaknya sudah mulai bertahap menanam kedelai secara tumpang sari di kebun tebu.

“Jadi sudah bertahap menanam kedelai di kebun tebu menggunakan sistem tumpang sari. Tapi produktivitasnya belum terlalu baik, sehingga kami minta juga masukan terkait bibit, unsur hara tanah, atau cara budidayanya agar bisa lebih meningkat produktivitasnya,” katanya.

Menurut dia, saat ini pihaknya memiliki lahan seluas 57 ribu hektare, dimana 33 ribu hektare telah ditanami komoditas sawit, karet dan tebu. Serta sisanya sebanyak 12-15 ribu hektare masih dapat dioptimalkan sebagai lahan pertanian.

“Lahan seluas 12-15 ribu hektare ini bisa dimaksimalkan untuk menanam jagung, kedelai jadi bisa mendukung sektor perkebunan serta pertanian,” ujar dia. (***)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini