Pj Bupati Tanggamus Menghadiri Fokus Diskusikan Budidaya Lobster

0
317

TANGGAMUS, WARTAALAM.COM – Pj. Bupati Tanggamus Mulyadi irsan menghadiri Fokus Diskusi (FGD) Budidaya Lobster, di Gisting, Rabu (22/11/2023).

Selaku pimpinan daerah, kata Mulyadi, menyambut baik dan mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Provinsi Lampung melalui Bappeda yang telah melaksanakan FGD di Kabupaten Tanggamus.

“Seperti kita tahu Kabupaten Tanggamus, daerah pesisir di Provinsi Lampung yang memiliki sumberdaya kelautan dan sumberdaya perikanan yang melimpah. Untuk itu pengembangan budidaya lobster agar nantinya kita menjadi salah satu sentra di Provinsi Lampung perlu kita bicarakan di sini, sehingga akan tersusun strategi pengembangan lobster di wilayah Tanggamus, menuju Lampung Berjaya,” ujarnya.

Gempita (Gerakan Membangun Pesisir Tanggamus), suatu gerakan percepatan sinergitas pembangunan wilayah pesisir dan sekitarnya dengan mengoptimalkan segenap potensi SDM, SDA, insfratruktur, kebijakan-kebijakan pusat dan daerah yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan dalam rangka ikut mempercepat pertumbuhan ekonomi bagi wilayah pesisir untuk mewujudkan masyarakat pesisir yang maju dan sejahtera.

Kabupaten Tanggamus dikenal sebagai daerah yang memiliki potensi perikanan dan mempunyai perairan yang sangat melimpah baik yang terdapat di perairan laut maupun perairan darat yang mendukung potensi pengembangan perikanan.

Produksi perikanan tangkap Kabupaten Tanggamus tahun 2022 sekira 41.631 ton dengan hasil tangkapan terbesar dari Kecamatan Pematang Sawa sekira 18.155 ton.

Di antara potensi yang menjanjikan, penangkapan lobster (panulirus spp). Perikanan lobster di Provinsi Lampung telah dilakukan sejak tahun 1980-an, para nelayan dan dijual pada pedagang pengumpul lokal.

“Penangkapan lobster dapat kita kembangkan dan dioptimalisasi dengan tujuan membantu pembangunan perikanan lobster di masa mendatang.”

Provinsi Lampung telah dikenal masyarakat luas sebagai sentra produksi komoditas perikanan dengan harga jual tinggi seperti udang vaname (litopenaeus vannamei) dan ikan-ikan kerapu (epinephelus sp., cromileptes altivelis) yang merupakan hasil budidaya, dan tidak lagi tergantung penangkapan.

Beberapa tahun ini, hanya udang vaname yang produksinya konsisten, sedangkan produksi ikan-ikan kerapu produksinya turun dan naik karena infeksi penyakit virus dan pemasaran yang terbatas, sehingga produksi tidak optimal.

Selain itu di Provinsi Lampung juga memiliki potensi komoditas perikanan laut yang perlu dikembangkan di antaranya lobster (Panulirus).

Lobster di Provinsi Lampung, dapat ditangkap di wilayah perairan Teluk Lampung, Kabupaten Tanggamus sampai wilayah Pesisir Barat.

Lokasi penangkapan lobster di Kabupaten Tanggamus tersebar di perairan di wilayah Kecamatan Kelumbayan, Limau, Kotaagung, dan Pematang Sawa.

Total hasil penangkapan lobster pada 2022 sekira 27 ton, terdiri dari Lobster mutiara (Panulirus ornatus) 14,5 ton dan Lobster pasir (Panulirus homarus) 12,5 ton.

Perikanan lobster di Provinsi Lampung khususunya di Kabupaten Tanggamus dan Pesisir Barat yang perlu banyak dikaji sehingga masyarakat dapat memahami dan pemerintah dapat memberikan perhatian yang lebih untuk pembangunan yang berkelanjutan.

Dua peraturan penting untuk melindungi lobster telah dikeluarkan pemerintah yaitu Permen KKP No.1 tahun 2015 dan Peraturan Menteri KKP Nomor 56/Permen-KP/2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster (Panulirus spp.), kepiting (Scylla spp.), dan rajungan (Portunus spp.) dari wilayah Negara Republik Indonesia. Pada pasal (2) disampaikan bahwa Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster (Panulirus spp.), dengan Harmonized System Code 0306.21.10.00 atau 0306.21.20.00, dari wilayah Indonesia hanya dapat dilakukan dengan ketentuan:
1. Tidak dalam kondisi bertelur; dan
2. Ukuran panjang karapas diatas 8 cm atau berat di atas 200 gram per ekor.

Sedangkan untuk penangkapan di luar kondisi di atas tidak dibatasi. Namun, sampai saat ini penangkapan lobster belum tercatat dengan baik, walaupun potensinya cukup melimpah.

Konsumsi lobster hasil tangkapan nelayan cukup besar. Konsumen terbesar adalah pedagang besar yang memasok restoran sea food atau hotel.

Konsumen lainnya berasal dari tempat-tempat wisata lokal di Pesisir Barat seperti di Krui atau Tanjung Setia.

Sejak terkenalnya pantai-pantai di Pesisir Barat sebagai tempat wisata banyak wisatawan domestik dan asing yang berkunjung dan memilih lobster sebagai menu makanan selama berwisata selain ikan marlin atau setuhuk. Konsumen lobster lainnya masyarakat sekitar yang membeli lobster sebagai buah tangan untuk kerabat, untuk hajatan atau lauk pauk sehari-hari. Harga jual untuk perkilo lobster cukup tinggi (Rp. 150.000/kg – 300.000/kg) dengan bervariasi tergantung ukuran, spesies dan jumlah lobster yang tersedia.

Melihat potensi pariwisata, keterkaitan dengan konsumsi lobster, maka ini tantangan bagi Kabupaten Tanggamus untuk meningkatkan kualitas destinasi wisata agar dapat menarik wisatawan datang kesini.

Hubungan antara potensi sumber daya lobster dan kebutuhan (konsumsi) masyarakat perlu diseimbangkan untuk pengembangan perikanan tangkap dan perikanan budidaya lobster agar penangkapan lobster dapat bersifat lestari. Hubungan ini menunjukkan bahwa biologi lobster menjadi sentral dalam pembangunan perikanan lobster. Kontribusinya menjadi pembatas pada perikanan tangkap dan budidaya.

Selain itu keberlanjutan pembangunan lobster sangat dipengaruhi kualitas lingkungan dan kemampuan pengembangan biologi lobster untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan misalnya dengan perangkat riset berbasis bioteknologi.

Keseluruhan deskripsi tersebut dapat mendukung terpenuhinya secara berkelanjutan kebutuhan masyarakat akan makanan laut yang sehat.

Faktor mengapa reproduksi lobster tidak berkembang dibandingkan reproduksi udang windu dan vaname adalah belum banyaknya perhatian peneliti dan praktisi tentang hal ini.

Lobster yang ditangkap dari alam termasuk hewan liar sehingga perlu diadaptasikan pada kondisi budidaya yang disebut dengan domestikasi.

Domestikasi lobster yang dapat dilakukan dengan karantina, pemberian pakan dan pemeliharaan pada wadah yang dikelola dengan manajemen yang baik untuk dibesarkan kemudian hasilnya dapat dikonsumsi atau digunakan sebagai induk dalam pembenihan.

Pemerhati lobster atau perikanan pasti memahami lobster memiliki pertumbuhan yang lambat sehingga pembesarannya butuh waktu yang lama.

Perikanan lobster di Kabupaten Tanggamus tidak terbatas dengan perikanan tangkap, tetapi dapat dikembangkan dengan perikanan budidaya. Hubungan antara perikanan tangkap dan perikanan budidaya lobster sangat erat yang dihubungan dengan jalur pemasaran yang dapat dijadikan salah satu fakta pertimbangan pembangunannya di masa depan. (pon)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini