30.1 C
Bandar Lampung
Selasa, September 27, 2022
spot_img
BerandaHukum & KriminalNelayan Diminta Waspadai Penculikan oleh Kelompok Abu Sayyaf

Nelayan Diminta Waspadai Penculikan oleh Kelompok Abu Sayyaf

 18 dilihat

Tarakan, WARTAALAM.COM — Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Kota Tarakan mengimbau para nelayan agar waspada terhadap ancaman penculikan oleh kelompok Abu Sayyaf.

“Kami minta para nelayan membawa kapal-kapalnya berlayar menghindari kelompok Abu Sayyaf yang berpindah dari kawasan Tawi-Tawi ke kawasan Semporna,” kata Kepala Seksi Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli KSOP Kelas III Tarakan Syaharuddin di Tarakan, Kalimantan Utara, Sabtu (2/10).

Menurut dia, sasaran kelompok Abu Sayyaf ini adalah wisatawan asing dan kapal-kapal yang melintas di kawasan Semporna, Sabah, Malaysia.

“Peringatan ini sudah diumumkan oleh VTS ( Vessel Trafic Service) Distrik Navigasi,” kata Syaharuddin.

Sebelumnya KSOP Kelas III Kota Tarakan memperingatkan para nelayan terhadap ancaman penculikan di perairan Sabah dan Filipina.

Sejarah

Keberadaan Abu Sayyaf tak lepas dari sejarah Moro National Liberation Front (MNLF). Organisasi tersebut merupakan gerakan yang menuntut kemerdekaan dari pemerintah Filipina, guna mendirikan negara Islam di Filipina Selatan.

Dalam berbagai sumber, situasi politik menjadi berubah saat pemerintah Filipina bernegosiasi dengan MNLF pada 1975. Dari pertemuan itu, lahir persetujuan yang diteken pada 23 Desember 1976. Persetujuan yang dinamakan kesepatan Tripoli itu menyatakan adanya otonomi khusus bagi MNLF di wilayah Filipina Selatan.

Daerah tersebut adalah mencakup 13 provinsi. Yaitu Basilan, Sulu, Tawi-Tawi, Zamboanga del Sur, Zamboanga del Norte, Cotabato utara, Manguindanao, Sultan Kudarat, Lanao Norte, Lanao Sur, Davao Sur, Cotabato selatan, dan Palawan.

Selain itu, otonomi penuh juga diberikan pada bidang pendidikan dan pengadilan. Sementara bidang pertahanan dan politik luar negeri tetap menjadi wewenang pemerintahan pusat di Manila.

Namun kesepakatan itu menuai perpecahan di internal MNLF. Akibatnya muncul faksi Moro Islam Liberation Front (MILF). Selain itu, ada anggota MNLF Abdurrajak Janjalani yang mengkritik keras kepemimpinan Nur Misuari dalam MNLF. Dia menyatakan tidak setuju atas langkah MNLF yang melakukan proses perundingan dengan Manila.

Kemudian, Abdurrajak Janjalani terbang ke Libya untuk menjalani pelatihan keagamaan. Selama lima tahun di sana, ia lalu kembali ke Basilan dan menjadi penceramah karismatik serta penggagas pendirian negara Islam di Mindanao, Filipina Selatan. Organisasinya itu kemudian disebut sebagai kelompok Abu Sayyaf.

Kelompok Abu Sayyaf ini juga dikenal sebagai Al Harakat Al Islamiyyah, merupakan kelompok yang terdiri dari milisi Islam berbasis di sekitar kepulauan selatan Filipina, antara lain Jolo, Basilan, dan Mindanao.

Angkatan bersenjata Filipina menyebut Abdurrajak sebagai pemimpin kelompok ini. Pada 18 Desember 1998, ia terbunuh dalam pertempuran dengan polisi di Kampong Lamitan, Basilan. Sepeninggal Abdurrajak, kelompok ini terpecah dalam faksi yang berbeda-beda. Kegiatannya pun lebih diwarnai oleh perampokan dan penculikan ketimbang perjuangan politik. (dbs)

Berita Terkait

KPK RI Kampanyekan Anti Korupsi Sejak Dini di Lamsel

LAMPUNG SELATAN, WARTAALAM.COM - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI...

Tapis Kapal Harumkan Kabupaten Lampung Selatan di Kancah Nasional

JAKARTA, WARTAALAM.COM - Produk kerajinan Tapis Kapal hasil Industri...

Nations League ; Prancis, Belgia, dan Turki tumbang

JAKARTA, WARTAALAM.COM - Prancis tumbang di tangan tuan rumah...

BaKamLa Republik Indonesia Penyuluhan Hukum di Lansel

LAMPUNG SELATAN, WARTAALAM.COM - Badan Keamanan Laut (BaKamLa) Republik...
spot_img
Semua Negara
620,792,154
Total kasus terkonfirmasi Kasus Covid
Updated on September 27, 2022 9:33 am

Langganan Berita

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini