PRINGSEWU, wartaalam.com– Perguruan Tinggi Institut Bakti Nusantara (IBN) menggelar Workshop menghadirkan Satria Abadi, M.T.I., Ph.D., pakar AI dari Tim Peneliti Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia. Rabu, (21/10/2026).
Satria Abadi, dosen Institut Bakti Nusantara sekaligus anggota tim peneliti Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia sebagai narasumber utama yang membahas pemanfaatan teknologi AI secara produktif, bertanggung jawab, dan beretika dalam lingkungan akademik.
Dalam pemaparan materinya, dia mengatakan, perkembangan teknologi Artificial Intelligence, khususnya Generatif AI, telah membuka peluang baru dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi.
Berbagai teknologi AI saat ini dapat dimanfaatkan untuk membantu pencarian informasi, analisis data, pengembangan perangkat lunak, penyusunan bahan pembelajaran, hingga mendukung kegiatan penelitian ilmiah.
Penggunaan teknologi AI juga menghadirkan sejumlah tantangan, terutama berkaitan dengan plagiarisme, keamanan data, privasi, bias algoritma, akurasi informasi, serta ketergantungan terhadap sistem kecerdasan buatan.
“Artificial Intelligence harus digunakan sebagai teknologi pendukung kecerdasan manusia, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir,” katanya.
Pakar AI dari Tim Peneliti Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia ini, menegaskan, dalam lingkungan akademik, pengguna AI harus mampu melakukan verifikasi terhadap informasi yang dihasilkan, menjaga orisinalitas karya ilmiah, serta bertanggung jawab terhadap setiap hasil pekerjaan yang menggunakan bantuan teknologi AI.
Ia menyatakan pentingnya memahami prinsip-prinsip Responsible AI, penggunaan kecerdasan buatan yang mengedepankan transparansi, akuntabilitas, keamanan, keadilan, dan penghormatan terhadap hak kekayaan intelektual.
Dalam konteks pendidikan tinggi, mahasiswa perlu memahami batasan penggunaan AI dalam penyusunan makalah, laporan praktikum, tugas akhir, skripsi, dan publikasi ilmiah.
Teknologi AI dapat digunakan untuk membantu proses pembelajaran dan eksplorasi gagasan, tetapi tidak boleh menjadi sarana untuk melakukan manipulasi data, fabrikasi referensi, maupun pelanggaran integritas akademik.
Workshop yang diikuti para dosen serta mahasiswa semester 5 dan 7 Institut Bakti Nusantara, secara resmi dibuka Wakil Rektor I Institut Bakti Nusantara, Didi Susianto, M.Kom.
Didi mengatakan, kehadiran narasumber yang memiliki pengalaman dalam bidang penelitian internasional diharapkan mampu memperluas wawasan sivitas akademika mengenai perkembangan teknologi kecerdasan buatan dan penerapannya dalam pendidikan, penelitian, serta dunia kerja.
Dia berharap kesiapan perguruan tinggi dalam menghadapi perkembangan teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan yang semakin banyak digunakan dalam berbagai bidang kehidupan.
Menurutnya, teknologi AI telah membawa perubahan signifikan terhadap proses pembelajaran, penelitian, pengolahan data, hingga pengambilan keputusan.
Dosen dan mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal tanpa mengabaikan integritas akademik.
“Perkembangan Artificial Intelligence memberikan peluang besar bagi dunia pendidikan tinggi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, dan inovasi. Namun, pemanfaatannya harus disertai pemahaman mengenai etika, kejujuran akademik, dan tanggung jawab pengguna. Kami berharap mahasiswa Institut Bakti Nusantara tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI, tetapi juga mampu mengembangkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan akademik ini dimoderatori Dr. Miswan Gumanti, MBA., MM., wakil Rektor II Institut Bakti Nusantara.
Dalam pengantarnya, ia menyampaikan perkembangan kecerdasan buatan merupakan fenomena global yang perlu dipahami secara komprehensif oleh mahasiswa dan dosen.
Menurut dia, AI bukan sekadar teknologi untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan, tetapi juga merupakan instrumen yang dapat meningkatkan produktivitas, kreativitas, serta kualitas pengambilan keputusan apabila digunakan dengan benar.
“Mahasiswa harus memahami kecerdasan buatan merupakan alat bantu untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan produktivitas, bukan untuk menggantikan proses berpikir kritis. Penggunaan AI dalam penyusunan tugas, karya ilmiah, maupun penelitian harus tetap memperhatikan keaslian karya, validitas informasi, serta etika akademik,” katanya. (Ade)



