PRINGSEWU, wartaalam.com–Bupati Pringsewu, Riyanto Pamungkas mengukuhkan 8 pejabat administrator dan 24 pejabat pengawas serta 4 pejabat fungsional di lingkungan pemerintah kabupaten setempat.
Prosesi pelantikan yang juga dihadiri Wakil Bupati Umi Laila dan Sekretaris Daerah M.Andi Purwanto beserta para asisten dan staf ahli bupati dan sejumlah kepala perangkat daerah, digelar di Aula Utama Kantor Pemkab setempat, Senin (6/7/2026).
Para pejabat yang dilantik, Pejabat Administrator Tri Antara (sekdis Perhubungan), Suhermadi, (sekban Satpol PP), Marison, (sekdis Sosial), Ma’ruf Wahyudi (kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD), Mulyono (kabid Rehabilitasi dan Perlindungan Jaminan Sosial Dinsos), Ns.Eko Sutarko (kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD), Eko Turyono (kabid Sumberdaya Aparatur dan Perlindungan Masyarakat Satpol PP), dan Nia Marulita (kabid Tenaga Kerja Disnaker Trans). Kemudian Pejabat Pengawas Wahyudin (KUPTD Laboratorium Kesehatan Daerah) serta para pejabat pengawas dan pejabat fungsional lainnya.
Riyanto Pamungkas dalam menitipkan tiga pesan, menjaga integritas sebagai fondasi utama seorang aparatur sipil negara.
Dia mengatakan, pengetahuan dapat dipelajari dan keterampilan dapat dilatih, namun kejujuran merupakan pilihan, kepercayaan masyarakat dibangun dalam waktu yang panjang, tetapi dapat hilang hanya karena satu penyimpangan. Selalu menjaga integritas lebih daripada menjaga jabatan.
Teruslah belajar dan berinovasi, dan jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki hari ini, sebab, perubahan akan selalu terjadi.
Mereka yang terus belajar akan selalu menemukan cara baru untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Namun sebaliknya, mereka yang berhenti belajar akan tertinggal perubahan. Manfaatkan teknologi sebagai alat untuk mempercepat pelayanan, bukan sesuatu yang harus ditakuti, ujarnya.
Untuk membangun budaya kolaborasi, menurutnya tidak ada satu perangkat daerahpun yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan pembangunan sendirian.
Keberhasilan Kabupaten Pringsewu, kata dia, bukan kerja individu, tetapi lahir dari sinergi dan saling percaya, saling menguatkan dan semangat bergotongroyong.
Dia meminta hilangkan sekat-sekat birokrasi dengan memperkuat komunikasi.
“Percepat koordinasi, karena masyarakat tidak pernah bertanya siapa yang paling berjasa. Tetapi yang mereka harapkan hanyalah persoalan mereka dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Mari kita jadikan jabatan ini sebagai jalan pengabdian, bukan sekadar kedudukan, sebagai ladang amal, bukan sekadar pekerjaan. Karena pada akhirnya masyarakat tidak akan mengingat berapa lama kita menjabat, tetapi mereka akan mengingat apakah selama kita menjabat hidup mereka menjadi lebih baik,” katanya.(Ade)